Lima hari sudah aku terlepas dari musibah yang menimpaku. 'Tanda mata' yang diberikan di lutut dan jari tanganku pun masih basah, belum mengering sempurna. Kecelakaan yang menimpaku bersama temanku saat kami naik motor berangkat ke tempat kerja lima hari yang lalu membuat sholatku tak lagi bisa sempurna. Bukannya aku jadi lengah tak mengerjakan sholat lima waktu, tapi luka lututku yang belum mengering dan masih terasa nyeri membuat posisi sujudku tak lagi sempurna. Sholat-sholat malamku pun paling banyak saat ini hanya 4 rakaat dengan dua kali salam plus 3 rakaat witir. Belum lagi konsentrasi (khusyu') yang semakin sulit aku arahkan.
Nyeri, itulah yang aku rasakan tiap kali aku beralih gerakan dalam sholat-sholatku kini. Saat ruku, tangan kananku tak lagi bisa memegang kuat lututku dengan luka yang masih basah. Saat berpindah gerakan dari i'tidal ke sujud, masya Allah, inilah perjuangan yang paling berat. Kakiku yang memang masih sulit untuk ditekuk dan lutut yang memang harus menjadi tumpuan saat aku bersujud tak jarang membuat air mata ini menetes tanpa sadar. Bukan karena aku khusyu' dalam sholat (justru sangat aku sangsikan kekhusyu'an sholatku), tapi semata-mata karena aku menahan nyeri yang sangat saat aku lakukan gerakan itu. Sama halnya saat aku harus kembali berdiri setelah sujud. Sama nyerinya! Lain lagi halnya saat tasyahud. Jari kelingkingku yang belum bisa ditekuk saat mengepalmembuat tanganku beraksi seperti anak-anak metal. Bagaimana tidak, telunjuk harus ditunjukkan dengan ibu jari disampingnya dan karena memang jari kelingkingku belum bisa ditekuk, alhasil tanganku beraksi seperti anak-anak saat mengucap kata 'metal' (hehe... bisa ngebayangin ga?)
Laa haula wa laa quwwata illa billah, sungguh nikmat sehat dari Allah itu sungguh tiada taranya. Baru juga aku diuji dengan diberi sedikit 'tanda mata' di lutut dan jari tangan, aku sudah meringis kesakitan tak karuan.
Masih lekat ingatan di kepalaku saat aku baca shirah nabawi betapa para sahabat Rasulullah sangat khusyu' dalam sholatnya. Bahkan ada yang saat sholat terkena anak panah dan darahnya mengucur, sahabat tersebut tetap tegak berdiri dalam sholatnya. Ada juga sahabat lain yang meminta waktu untuk amputasi kakinya dilakukan pada saat sholat. Subhanallah... betapa agungnya... Sahabat Rasul saja seperti itu, bagaimana dengan Rasul? Agh... malu rasanya diriku ini bila bercermin pada beliau-beliau.
Seperti biasanya, aku tiba di kost sepulang kerja saat ashar jam 3 sore. Sesegera mungkin aku mandi, wudhu dan kutunaikan kewajiban sholat asharku dan tentu saja dengan bonus nyeri yang tak kunjung usai.
“Semoga rasa nyeri itu bisa menjadi salah satu jalan penggugur dosa kk. Sabar ya ka”
Aku masih teringat dengan pesan 'adik'ku Fikri tadi siang di message board komputer kerjaku. Alhamdulillah, Allah masih memberikan aku jalan untuk mengurangi dosa-dosa yang telah kuperbuat selama ini.
“A'udzubillahi minassyaithonirrajiim...”
Tiba-tiba aku terperanjat. Masya Allah... selepas sholat Ashar tadi aku ketiduran. Sayup terdengar murottal yang diputar di masjid yang letaknya tak jauh dari kost. Murottal tersebut diputar menjelang saat adzan maghrib tiba. Aku bergegas mengambil air wudhu dan bersiap untuk menyambut datangnya maghrib.
“Assalamu'alaykum” terdengar ucapan salam diiringi dengan dibukanya pintu depan dari luar.
“Wa'alaykumussalam” jawabku.
Rima, teman satu kostku baru pulang dari kerja. Tiada percakapan lagi setelah aku menjawab salamnya karena memang bertepatan dengan adzan maghrib dari masjid sebelah. Sempat kulemparkan pandanganku keluar, mengantar temanku pulang kerja. Tak lama kemudian, Rima kembali ke teras depan menjumpai laki-laki itu. Mungkin hanya satu atau dua menit berbincang sebentar sebelum laki-laki itu pergi, pikirku. Dan aku pun tak melanjutkan investigasiku, sudah waktunya aku sholat maghrib dan memang bukan sifatku yang suka ingin tau urusan orang lain.
Sekitar 10-15 menit setelah aku selesai sholat, aku masih mendengar 'celoteh' dua orang tadi di teras depan. Entah kenapa tiba-tiba perasaanku jadi tidak enak, kesal dan ingin sekali rasanya mengingatkan mereka berdua untuk lebih menghargai waktu maghrib. Segera kulepas mukenah yang masih menempel di tubuhku, dan langsung aku pakai gamis dan jilbabku. Tekadku sudah bulat untuk menegur mereka berdua, sekalian aku keluar membeli nasi bungkus untuk makan malamku.
Aku buka perlahan pintu depan kostku. Terlihat temanku dan laki-laki itu duduk bersebelahan dan... masya Allah lengan pria itu hampir terlihat memeluk temanku (terlihat sekali bahwa itu cara dia menyamarkan gerakan tangannya dengan menyandarkan lengannya di atas sandaran kursi). Sempat laki-laki itu menoleh padaku, tapi tidak temanku. Saat laki-laki itu melihatku pun, lengannya tak kunjung diubah posisinya. Dengan geram namun tetap aku buat se-rilex mungkin, aku tanya mereka berdua,
“Sudah sholat maghrib belum?” sambil kutatap lekat temanku dan laki-laki itu. Ternyata kalimat itu yang keluar dariku, padahal satu atau dua menit sebelumnya sempat tersusun di kepalaku kalimat yang lebih santun, “Maaf mas, sudah sholat maghrib belum?”
Mungkin karena rasa kesalku ke dia yang tidak menghargai waktu maghrib sehingga kata 'maaf' dan 'mas' (sapaan untuk menghormati laki-laki yang lebih tua) tereliminasi secara otomatis dari bibirku.
Spontan keduanya kaget melihat dan mendengar teguranku. Sesaat mereka terdiam, namun temanku kemudian kulihat memaksa laki-laki itu untuk pulang.
Aku pun ngeloyor pergi membeli nasi bungkus di warung depan. Alhamdulillah ya Allah, Engkau telah memberikan hamba keberanian untuk menegakkan perintahMu.
Aw, nyeri! Aku lupa terlalu cepat melangkahkan kakiku, hehehe...
memoar 12 Juli 2006
![]() |
||
About Me
Online store penyedia busana muslim anak dan dewasa, batik anak dan dewasa, mukenah anak dan dewasa. YM id: tradisionalindo sms: +6285731284579 phone: +6231-71348784 email: support.muslimah@gmail.com Recent Posts
Tempat Main
|
Thursday, July 5, 2007Maaf Mas, Sudah Sholat Maghrib?baca selengkapnya |
|
| :: Smart, Wise, Religious and Competence: Maaf Mas, Sudah Sholat Maghrib? - Designed by Bunga Ayesha :: | ||








1 Comments:
""sholat maghrib dulu gih!"
tuh kan...kesannya malah main perintah.
tapi aku dulu seneng banget disuruh2 kayak gitu.
sekarang, ndengerin dia 1000x pun nyuruh aku dengan nada perintah kayak gitu lagi aku juga mau. sangat pengen malah"
Post a Comment
<< Home