Alhamdulillah bekal yang aku bawa kali ini cukup untuk dua orang. Entah ini hanya sebuah kebetulan saja atau memang ibu sengaja membawakan bekal lebih untukku supaya aku tak kelaparan jika pulang sore nanti. Dua buah roti isi, satu berisi coklat keju dan yang satu lagi berisi keju pisang. Keduanya adalah roti kesukaanku, dan ibu sangat tahu akan hal itu.
Kuberikan roti coklat keju itu untuk Diana, teman yang baru aku kenal kemarin saat kami sama-sama mulai mengikuti training karyawan baru. Perutku ini tidak cukup besar untuk menampung dua roti isi tersebut meski aku suka sekali dengan dua rasa roti itu. Dan aku pun bukan orang yang egois, tega membiarkan orang di dekatku kelaparan sementara aku kenyang. Mungkin Diana lupa kalau training hari ini akan berlangsung sampai sore dan catering ditiadakan diganti dengan uang makan. Penggantian catering dengan yang mentah tentu ini buatku lebih menguntungkan, lumayan nambah uang saku, toh aku bisa membawa bekal sendiri dari rumah.
“Terima kasih ya Hisa,” terurai senyum simpul Diana setelah dia menerima roti yang kuberikan padanya.
“Iya, sama-sama, kebetulan mama membawakan aku bekal lebih,” sahutku.
Sejenak aku dan Diana terlibat dalam percakapan pendek, sekedar untuk saling mengenal lebih jauh lagi atau mungkin hanya basa-basi untuk mengisi kebisuan meja pojok di pantry. Aku dan Diana lebih memilih meja di pojok ruangan, lebih tenang, itu alasanku. Peserta training yang lain lebih memilih ketawa-ketiwi dengan suara yang cukup keras, ya mungkin sebagai luapan rasa bahagia karena diterima bekerja di sebuah perusahaan BUMN yang sangat ternama ini atau mungkin karena merasa bangga akan prestasi yang diraihnya yang sudah berhasil menyisihkan ratusan pelamar lain. Entahlah, apapun alasannya, aku tetap kurang suka karena memang aku tak suka keramaian.
*****
“Nggak bawa bekal lagi Di?” tanyaku ke Diana
Diana hanya membalas dengan anggukan lemah dan malu-malu. Aku geli dibuatnya, polos sekali anak ini pikirku. Diana memang anak desa, sama sepertiku, tapi kami sangat jauh berbeda. Dalam diri Diana masih terlihat jelas kepolosan, lugu dan malu-malu jika bergaul dengan teman-teman lain yang sudah lama tinggal di kota. Sementara aku, sangat cuek, terserah orang lain mau bilang apa tentangku, yang penting aku tidak menyakiti mereka dan aku tetap menghargai mereka. Aku hidup dengan gayaku sendiri, dengan baju dan rok panjangku, serta jilbab lebarku. Terkadang aku memakai gamis yang sedikit kebesaran (atau banyak?) sehingga membuat tiap orang yang meilihatku menyangka aku sedang ‘isi’. Seringkali aku geli dengan semua ini, tapi aku cuek sajalah…
Untuk yang kesekian kalinya aku berbagi bekal lagi dengan Diana. Entah apa alasan Diana hingga dia tak mau membawa bekal ke kantor. Terkadang sempat terpikir olehku, apa mungkin karena aku selalu berbagi bekal dengannya sehingga dia jadi manja dan tergantung denganku? Ah… cepat-cepat kuhilangkan pikiran burukku itu. Tak pantas rasanya aku berpikiran buruk sama orang lain, terlebih sama sahabat sendiri.
“Ini Di, silahkan, kita paruhan ya. Kali ini bunda hanya membawakanku satu roti isi saja karena adikku tadi meminta roti bekalku sebelum aku berangkat ke kantor,” jelasku sambil memberikan paruhan rotiku ke Diana.
“Iya, gpp, makasih ya Hisa, kamu baik sekali denganku, rotinya buat kamu saja, biar aku makannya nanti saja sepulang training,” jawab Diana.
“Nggak Di, kita paruhan, aku sudah cukup dengan separuh roti ini. Ayo, kamu harus makan,” jawabku sambil membujuk Diana supaya mau menerima rotiku.
“Baiklah, terima kasih banyak ya Hisa,” jawab Diana lagi-lagi dengan senyum polosnya.
“Nah gitu donk, ini baru Diana,” sahutku sambil berkelakar.
Aku tak lagi ambil pusing dan mencari tahu kenapa Diana tak pernah membawa bekal makanan untuk dirinya sendiri meski sudah ada pemberitahuan kalau training akan berlangsung sampai sore hari dan kami hanya memperoleh jatah air putih dan permen kopi penghilang ngantuk. Tentu saja ditambah dengan uang saku tambahan sebagai pengganti uang makan. Aku dan Diana menikmati roti buatan ibuku sambil bercerita masa kuliah dulu yang kebetulan Diana satu almamater denganku namun di Fakultas yang berbeda.
*****
Genap sepuluh hari sudah masa trainingku. Sekarang adalah hari ke sepuluh. Tidak seperti biasanya, kali ini aku mencari-cari sosok yang biasa akrab denganku. Diana, aku tidak menemukan Diana hari ini. Sekitar 15 menit, berkali-kali aku memutar mataku untuk mencari keberadaan Diana di dalam ruang kelas ini sebelum aku teringat kalau hari ini hari terakhir training dan ada pembagian kelas. Aku baru sadar kalau di hari terakhir ada pembagian kelas untuk peserta training. Pembagian kelas disini dimaksudkan untuk membagi segmen pelanggan. Kami bekerja sebagai seorang customer service dengan berbagai macam karakter customer (pelanggan, ed.), untuk itulah diperlukan pemagian segmen pelanggan. Pelayanan kepada pelanggan dibedakan antara pelanggan dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah dan pelanggan dengan tingkat ekonomi menengah ke atas. Entah apakah karena tingkat kepuasan pelanggan dengan tingkat ekonomi menengah ke atas itu lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat kepuasan pelanggan kelas menengah ke bawah. Ataukah pelanggan dengan tingkat ekonomi menengah ke atas memberikan kontribusi yang cukup besar untuk perusahaan dibandingkan dengan pelanggan kelas menengah ke bawah. Apapun alasannya, ternyata strata social tetap memiliki pengaruh di Negara yang mayoritas penduduknya muslim ini.
Break time. Aku segera menuju pantry berharap untuk bertemu Diana disana, namun sayangnya kali ini aku tidak membawa bekal. Salah satu sifatku yang masih sering kambuh, pelupa, karena terburu-buru aku jadi lupa memasukkan bekal yang sudah disiapkan ibu ke dalam tasku. Ah sudahlah, toh aku juga tadi sarapan sebelum berangkat ke kantor.
Firasatku jitu juga, aku menemukan Diana di pantry. Namun kali ini aku mendapati sosok yang berbeda di diri Diana. Dia tak lagi terlihat lugu dan polos. Hmm… mungkin karena dia sudah mulai menyesuaikan diri dengan teman-teman kost barunya yang sering dia ceritakan padaku sebelumnya. Diana tak lagi tampil sederhana, apa adanya. Dia kini layaknya gadis metropolitan dengan dandanan make up yang membalut wajahnya yang tak lagi terlihat lugu. Diana pun kini terlihat lebih bebas mengeluarkan ekspresi tawanya yang dahulu dia lebh memilih untuk tersenyum saja karena menurut tak mau menjadi pusat perhatian. Diana benar-benar menjadi sosok yang berbeda.
Aku coba mendatangi meja Diana dimana dia sedang bercanda bersama rekan-rekan barunya.
“Hai Di,” sapaku singkat.
“Hei Hisa, sendirian?” sahut Diana singkat sambil tetap asyik berccanda dengan rekan-rekan barunya dan menyantap menu makan siangnya.
Yup, Diana benar-benar berubah, aku turut bahagia melihat dia yang bersemangat seperti sekarang ini namun di sisi yang lain, aku benar-benar kehilangan Diana…
Aku berharap bias duduk semeja lagi dengan Diana, terlebih untuk saat ini, di hari terakhir training kerja karena aku dan Diana di tempatkan di bagian yang berbeda dan tentunya aku dan Diana tidak lagi akan sering bertemu.
Namun aku hanya bisa mengambil kursi di meja yang terletak di dekat meja Diana. Diana terlihat cuek dan bahkan menurutku dia sekarang terlihat sedikit (atau banyak?) angkuh. Sesekali Diana melirik ke arahku, aku tahu akan hal itu dan ketika Diana sadar aku memergokinya melirikku, dia langsung memalingkan muka dariku. Sungguh aku tak tahu kesalahan apa yang sudah kuperbuat padanya hingga aku mendapatakan perlakuan yang seperti ini. Layakkah aku mendapatkan semua perlakuan Diana seperti ini padahal selama ini aku yang selalu menemani Diana saat dia sendiri dan aku yang selalu berbagi makanan (bekalku) dengannya saat dia tak punya sesuatu untuk dimakan. Apa arti semua ini?
Selama beberapa saat aku terlarut dalam lamunanku, pikiran buruk tentang Diana, sebelum aku tersadar bahwa aku telah mengotori persahabatan ini dengan pikiran burukku. Astaghfirullah… ucapku lirih. Ternyata aku yang selama ini mengatakan ikhlas memberikan sebagian roti coklatku untuknya, aku yang selalu mengatakan ikhlas meluangkan waktuku untuk mendengarkan cerita dan keluh kesahnya, dan aku yang mengatakan ikhlas menerima dia apa adanya adalah bualan semata. Ternyata aku sudah tidak ikhlas, aku masih berharap Diana memperlakukanku dengan hal yang sama, aku berharap Diana juga bersikap baik terhadapku. Aku tak bisa lagi mengelak, aku telah menemukan siapa diriku, aku yang belum bisa ikhlas menerima kenyataan ini, aku yang mengingkari perkataanku sendiri. Aku sudah tak ikhlas. Berbuat kebaikan terhadap orang lain tak harus selalu dibalas dengan kebaikan juga bukan? Astahgfirullah… aku malu, aku sangat malu kepadaMu. Ternyata lisanku tak sesuai dengan hatiku. Ya Rabb, aku khilaf, aku memohon keluasan ampunan-Mu…
0 Comments:
Post a Comment
<< Home